Kondisi tersebut membuat besaran dividen tidak hanya ditentukan oleh harga jual batu bara, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan beradaptasi dengan aturan baru dan menjaga fleksibilitas keuangan.
AADI sebagai pilihan utama
Di tengah kondisi tersebut, CGSI mempertahankan rekomendasi Add untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan Hold untuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Sementara itu, rekomendasi saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinaikkan dari Hold menjadi Add.
CGSI masih menggunakan target rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (P/E) sebesar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis masing-masing perusahaan pada periode 2008-2025, ketika harga batu bara Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di kisaran USD70-90 per ton.
Pendekatan valuasi tersebut mencerminkan risiko siklus komoditas, ketidakpastian regulasi, dan risiko eksekusi bisnis yang masih membayangi sektor batu bara.