IDXChannel - PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) mencetak kinerja positif sepanjang Januari-Juni 2026. Produsen ban terbesar di Asia Tenggara itu membukukan laba bersih sebesar Rp796 miliar, naik 77 persen secara tahunan.
Dalam laporan keuangan konsolidasi yang tidak diaudit (unaudited), Jumat (24/7/2026), Gajah Tunggal meraih penjualan bersih sebesar Rp8,99 triliun, tumbuh 5,6 persen dibandingkan semester I-2025 yang sebesar Rp8,52 triliun.
Sementara itu, beban pokok penjualan hanya naik 2,4 persen menjadi Rp7,10 triliun di periode yang sama, mencerminkan pengelolaan biaya yang disiplin dan efisien. Hal ini mendorong profitabilitas perseroan meningkat.
Laba kotor Gajah Tunggal naik 19,7 persen menjadi Rp1,90 triliun, berkat kenaikan pendapatan dan beban pokok pendapatan yang terkendali. Margin laba kotor ikut terkerek naik dari 18,6 persen menjadi 21,1 persen.
Laba sebelum pajak Gajah Tunggal juga melonjak tajam 73,4 persen menjadi Rp1,01 triliun. Lonjakan ini terjadi karena pengelolaan beban usaha yang terkendali.
Beban penjualan serta beban umum dan administrasi hanya naik tipis, bahkan beban keuangan tercatat turun 20 persen menjadi Rp194 miliar. Perseroan juga mencatat keuntungan kurs naik tiga kali lipat menjadi Rp115 miliar imbas menguatnya dolar AS.
Dari laporan arus kas, Gajah Tanggal mencatat perbaikan yang signifikan pada arus kas dari aktivitas operasi yang naik dua kali lipat menjadi Rp815,6 miliar. Lonjakan tersebut terjadi karena meningkatnya penerimaan kas dari pelanggan menjadi Rp9,71 triliun, sedangkan pembayaran kepada pemasok turun menjadi Rp8,48 triliun. Pembayaran bunga yang lebih rendah juga ikut mendongkrak arus kas perseroan.
Meski arus kas naik, posisi kas dan setara kas justru turun karena belanja modal yang signifikan. Gajah Tunggal melakukan pembelian aset tetap, termasuk uang muka dengan total nilai Rp1,19 triliun.
Hingga 30 Juni 2026, kas Gajah Tunggal turun 7 persen dalam enam bulan menjadi Rp859 miliar, namun jika memperhitungkan aset keuangan cenderung stabil di kisaran Rp1,2 triliun.
Perseroan juga mencatat peningkatan pada pos piutang usaha sekitar 11 persen menjadi Rp5,2 triliun. Persediaan juga meningkat 13 persen menjadi Rp2,91 triliun.
Sementara utang bank jangka pendek meningkat dua kali lipat menjadi Rp1,13 triliun imbas penarikan utang dari Bank BCA dan Bank CIMB Niaga. Utang usaha juga naik Rp684 miliar, sedangkan utang bank jangka panjang relatif stabil di kisaran Rp3,98 triliun
Ekuitas meningkat 6 persen menjadi Rp8,64 triliun seiring kinerja laba rugi yang positif. Sementara aset tumbuh 8,86 persen menjadi Rp23,59 triliun.
(Rahmat Fiansyah)