Dalam skema tersebut, IMR Asia Holding akan menyetorkan sebanyak 49 persen saham PT Borneo Prima dengan nilai transaksi sekitar Rp21,2 triliun sebagai pengganti setoran dana tunai dalam pelaksanaan rights issue.
Masuknya PT Borneo Prima menjadi aset utama perseroan akan menjadi transformasi strategis bagi FORU. Perusahaan tersebut merupakan produsen batu bara kokas yang beroperasi di Kalimantan Tengah dan memiliki fokus pada segmen batu bara metalurgi yang digunakan dalam industri baja.
Sementara itu, dana yang berasal dari pelaksanaan HMETD oleh pemegang saham publik diperkirakan mencapai sekitar Rp6,4 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk memberikan pinjaman modal kerja kepada PT Borneo Prima guna mendukung kegiatan operasional dan pengembangan bisnis perusahaan tambang tersebut.
Seiring dengan masuknya kepemilikan di PT Borneo Prima, FORU juga berencana mengubah kegiatan usaha utama perseroan menjadi perusahaan holding.