"Pada Juni ini hanggar Pondok Cabe milik GMF sudah beroperasi," kata Tri.
Selain itu, perseroan memanfaatkan pasar Timur Tengah melalui fasilitas hanggar yang dioperasikan bersama mitra lokal. Inisiatif ini diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar USD16 juta tahun ini dengan potensi pertumbuhan 2,5 hingga 3,5 kali lipat dalam 3 tahun ke depan. Hanggar ini dalam waktu dekat akan mulai beroperasi.
Selanjutnya, GMF mengembangkan Aerospace Park bersama Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati yang ditujukan untuk menjadi ekosistem Defense MRO terbesar di Indonesia. Segmen defense MRO ini diperkirakan menyumbang 10 persen dari revenue perseroan atau sekitar USD50 juta per tahun.
"Jadi plan-nya adalah bisnis Government and Defense MRO milik GMF akan beroperasi di Kertajati," kata Tri.
Ia menambahkan, pihaknya juga tengah melakukan langkah diversifikasi menuju industri manufaktur aerospace yang mendukung ekosistem industri nasional dan industri aviation global. Inisiatif terakhir untuk mendorong pertumbuhan perseroan yaitu ekspansi kapasitas hanggar di Cengkareng.
"Jadi di GMF nanti terbagi segmennya di Cengkareng fokus untuk jet komersial, di Pondok Cabe untuk turbo prop, dan di Kertajati ke depannya untuk defense baik fixed wing maupun rotary wing," tambah Tri.