IDXChannel - Setidaknya ada tiga kapal tanker yang dikabarkan rusak serta tewasnya seorang pelaut, sebagai buntut ditutupnya jalur distribusi minyak lewat Selat Hormuz, yang berada di celah selat sempit sekaligus strategis di antara Teluk Persia dan Teluk Oman.
Hal ini menjadi kabar terbaru dari perkembangan konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Insiden mematikan yang terjadi dipicu oleh retaliasi Iran atas serangan AS-Israel, sehingga melumpuhkan jalur navigasi strategis Selat Hormuz.
Namun demikian, di tengah kabar panas dan ketegangan yang terjadi, PT GTS Internasional Tbk (GTSI) justru menilai adanya peluang emas bagi untuk meraup untung dari lonjakan permintaan angkutan logistik energi global.
Berdasarkan informasi terbaru pasca-serangan, risiko pelayaran komersial melonjak drastis dalam hitungan jam. Data pelayaran menunjukkan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG), terpaksa membuang jangkar di sekitar perairan Selat Hormuz demi keamanan.
Kepala Keamanan dan Keselamatan BIMCO, Jakob Larsen, menegaskan eskalasi ini membuat kapal komersial sangat rentan menjadi target. Alhasil, banyak perusahaan pelayaran raksasa yang panik dan memilih mengalihkan rute memutar jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan.