Permintaan tambahan juga berpotensi muncul setelah China mengurangi impor gas alam cair (LNG) guna mengantisipasi kenaikan biaya akibat gangguan di Selat Hormuz.
S&P Global memperkirakan pembangkit listrik berbasis gas turun 12 persen menjadi 300 miliar kWh, sehingga batu bara berpeluang mengisi kekurangan pasokan energi tersebut.
penasihat khusus di perusahaan konsultan berbasis Beijing, Azure International, Sharon Feng, mengatakan kenaikan harga gas membuat pembangkit berbasis gas semakin berperan sebagai pemasok listrik beban puncak.
Artinya, pembangkit gas hanya akan digunakan ketika permintaan listrik melonjak, sementara batu bara tetap menjadi sumber utama pembangkitan.
Peningkatan konsumsi batu bara tersebut menunjukkan tantangan China dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.