IDXChannel – Harga batu bara termal diperkirakan tetap mendapat dukungan meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Bank of America (BofA) menilai pola cuaca El Nino yang diperkirakan kuat dapat menjadi pendorong tambahan bagi permintaan batu bara, terutama di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
BofA menyebut harga batu bara Newcastle Australia sempat menembus level di atas USD150 per ton pada awal bulan ini, atau mencapai level tertinggi dalam sekitar dua tahun terakhir.
“Meski pasar baru-baru ini melunak akibat meredanya ketegangan di Teluk, pola cuaca El Nino biasanya terkait dengan kondisi yang lebih panas dan kering di sebagian wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, sehingga dapat menopang peningkatan konsumsi batu bara,” kata BofA, dikutip Dow Jones Newswires, Rabu (24/6/2026).
Kenaikan konsumsi batu bara juga diperkirakan datang dari China, negara dengan konsumsi listrik terbesar di dunia.
Setelah mencatat penurunan pertama dalam satu dekade pada tahun lalu, pembangkit listrik berbasis batu bara China diproyeksikan kembali meningkat pada 2026.
Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan, dikutip Reuters, konsumsi listrik dari pembangkit termal, yang mayoritas berasal dari batu bara, naik 3,4 persen secara tahunan menjadi 2,53 triliun kilowatt-jam (kWh) dalam lima bulan pertama tahun ini.
Sejumlah lembaga riset energi memperkirakan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik China kembali tumbuh.
S&P Global Energy dan Wood Mackenzie memproyeksikan pembangkitan listrik berbasis batu bara meningkat masing-masing 1,5 persen dan 2 persen menjadi 5,4 triliun kWh pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, perusahaan analitik energi Kpler memperkirakan konsumsi batu bara China untuk sektor kelistrikan naik sekitar 3 persen menjadi 2,7 miliar ton.
Permintaan tambahan juga berpotensi muncul setelah China mengurangi impor gas alam cair (LNG) guna mengantisipasi kenaikan biaya akibat gangguan di Selat Hormuz.
S&P Global memperkirakan pembangkit listrik berbasis gas turun 12 persen menjadi 300 miliar kWh, sehingga batu bara berpeluang mengisi kekurangan pasokan energi tersebut.
penasihat khusus di perusahaan konsultan berbasis Beijing, Azure International, Sharon Feng, mengatakan kenaikan harga gas membuat pembangkit berbasis gas semakin berperan sebagai pemasok listrik beban puncak.
Artinya, pembangkit gas hanya akan digunakan ketika permintaan listrik melonjak, sementara batu bara tetap menjadi sumber utama pembangkitan.
Peningkatan konsumsi batu bara tersebut menunjukkan tantangan China dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Meski ekonomi terbesar kedua dunia itu menargetkan pengurangan penggunaan batu bara, kebutuhan listrik terus meningkat seiring elektrifikasi kendaraan dan ekspansi pusat data.
Selain itu, penggunaan pendingin ruangan diperkirakan meningkat karena fenomena El Nino berpotensi membawa suhu lebih tinggi dari normal pada musim panas.
Menurut Feng, pemulihan ekspor China juga turut mendorong permintaan listrik dari sektor manufaktur yang membutuhkan energi besar. (Aldo Fernando)