IDXChannel – Harga emas dunia diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada pekan ini, di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).
Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga berpotensi menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), harga emas spot turun 0,13 persen menjadi USD4.165,42 per troy ons.
Sepanjang pekan lalu, harga logam mulia tersebut terkoreksi 0,70 persen.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan, seperti dikutip Reuters, harga emas masih bergerak dalam rentang terbatas, dengan kecenderungan mendekati batas bawah area support.
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor utama yang membatasi pergerakan emas.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menyampaikan optimisme terhadap kekuatan ekonomi AS, tetapi tidak memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga ke depan.
Di sisi lain, tekanan inflasi masih menjadi perhatian pelaku pasar. Data pada Kamis (15/10/2026) menunjukkan harga produsen AS pada September mencatat kenaikan terbesar dalam empat setengah tahun.
Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen juga memperlihatkan percepatan kenaikan harga pada bulan yang sama.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menilai perkembangan inflasi tersebut mengecewakan.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memperingatkan bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih agresif jika ekspektasi inflasi masyarakat memburuk secara signifikan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar secara umum memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember telah mencapai sekitar 90 persen.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi menjadi tantangan bagi emas.
Meski kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga naik.
Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics Hamad Hussain memperkirakan harga emas berpotensi bergerak turun secara bertahap hingga akhir tahun.
Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga, sementara kekhawatiran mengenai berakhirnya ledakan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan hanya bersifat sementara.
Proyeksi Sepekan
Meski tekanan dari ekspektasi suku bunga masih membayangi, arah harga emas dalam jangka pendek belum sepenuhnya jelas.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan pelaku pasar profesional di Wall Street masih terbelah dalam memperkirakan pergerakan emas pada pekan ini.
Dari 12 analis yang berpartisipasi dalam survei tersebut, empat analis atau 33 persen memperkirakan harga emas naik.
Sebanyak dua analis atau 17 persen memprediksi harga turun, sedangkan enam analis lainnya atau 50 persen memperkirakan harga bergerak mendatar atau masih berkonsolidasi.
Kepala Strategi Pasar SIA Wealth Management Colin Cieszynski memilih bersikap netral terhadap emas untuk pekan ini.
Menurut dia, harga emas masih berkutat di sekitar USD4.200 per troy ons, sementara agenda rilis data ekonomi AS yang relatif terbatas berpotensi membuat perhatian pasar beralih ke laporan kinerja perusahaan.
Pandangan berbeda disampaikan Analis Pasar Senior Barchart.com Darin Newsom yang memperkirakan harga emas naik.
Dia menilai tren kenaikan jangka menengah pada grafik mingguan emas berjangka masih bertahan, sementara pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara turut menopang harga.
Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day justru memperkirakan harga emas masih bergerak naik-turun sebelum akhirnya menembus rentang perdagangan saat ini.
Sementara itu, Analis Pasar Senior Forex.com James Stanley masih cenderung bullish setelah harga emas menunjukkan respons yang kuat pada akhir pekan.
Berbeda dengan analis profesional, investor ritel menunjukkan kecenderungan yang lebih pesimistis.
Dalam jajak pendapat daring Kitco yang diikuti 139 responden, sebanyak 60 investor atau 43 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini.
Sebanyak 63 responden atau 45 persen memprediksi harga turun, sedangkan 16 responden lainnya atau 12 persen memperkirakan harga bergerak mendatar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi penurunan harga sedikit lebih dominan di kalangan investor ritel, terutama setelah emas kembali gagal menembus level USD4.200 per troy ounce.
Data Ekonomi AS yang Perlu Dicermati Pekan Ini
Pada pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, terutama indikator perumahan, pasar tenaga kerja, aktivitas bisnis, dan sentimen konsumen.
Agenda ekonomi dimulai pada Selasa (20/10) dengan rilis data pembangunan rumah baru (housing starts) dan izin pembangunan (building permits) untuk September, yang disusul data penjualan rumah yang masih dalam proses transaksi (pending home sales).
Pada Kamis (22/10), pelaku pasar akan mencermati klaim pengangguran mingguan untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.
Sementara itu, Jumat (23/10) menjadi salah satu agenda utama pekan ini dengan rilis data awal indeks aktivitas bisnis S&P Global untuk sektor manufaktur, jasa, dan gabungan (composite PMI). Pasar juga akan mencermati pembacaan final indeks sentimen konsumen Universitas Michigan untuk Oktober.
Data-data tersebut berpotensi memengaruhi penilaian investor terhadap ketahanan ekonomi AS dan ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga. (Aldo Fernando)