Dolar AS bergerak melemah, sementara harga minyak turun. Melemahnya mata uang AS membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Data menunjukkan harga produsen AS pada Maret naik lebih rendah dari perkiraan, seiring biaya jasa yang tidak berubah. Namun, lonjakan harga energi akibat perang dengan Iran tetap mendorong tekanan inflasi.
Meski dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas cenderung kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga AS sebesar 33 persen tahun ini, lebih rendah dibanding ekspektasi dua kali pemangkasan sebelum konflik.
Analis Commerzbank menilai selama pasar tidak mulai serius mempertimbangkan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), yang sejauh ini belum terlihat, harga emas kemungkinan tidak akan turun lebih jauh.