IDXChannel – Harga emas naik lebih dari 1 persen pada Selasa (29/9/2026), pulih dari level terendah dalam lebih dari tujuh pekan pada sesi sebelumnya.
Namun, harga emas masih berada di bawah rata-rata pergerakan 100 hari (MA-100) karena kekhawatiran inflasi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat.
Harga emas spot naik 1,63 persen menjadi USD4.181,98 per troy ons.
Harga sempat menyentuh level terendah USD4.112,97, sedikit di atas posisi terendah lebih dari tujuh pekan pada Senin (28/9) di level USD4.110,55.
"Pergerakan hari ini hanya merupakan koreksi dari penurunan kemarin. Saya masih melihat adanya sejumlah tekanan yang cukup signifikan terhadap emas," kata Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant, seperti dikutip Reuters.
Pada sesi sebelumnya, harga emas anjlok hampir 4 persen, menjadi penurunan harian terdalam sejak 10 Juni.
Harga emas juga menyentuh level terendah sejak 5 Agustus, tertekan oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil Treasury, harga energi, serta kekhawatiran inflasi yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang semakin kuat membuat dolar tetap tinggi, sementara imbal hasil obligasi masih berada di level tinggi. Saya melihat ruang kenaikan emas mungkin agak terbatas hari ini dan pasar akan tetap fokus pada data inflasi PCE besok serta data ketenagakerjaan pada Jumat," ujar Grant.
Dolar AS menguat dan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan, ditopang oleh pergerakan harga minyak yang bergejolak serta kenaikan imbal hasil Treasury dalam beberapa waktu terakhir.
Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS.
Sementara itu, kenaikan imbal hasil Treasury meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi untuk meredam tekanan harga.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, daya tariknya cenderung berkurang dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil ketika suku bunga berada pada level tinggi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 68 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan 95 persen untuk kenaikan pada Desember.
Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting, termasuk data ketenagakerjaan ADP dan inflasi PCE yang dijadwalkan rilis pada Rabu (30/9), serta data nonfarm payrolls (NFP) pada Jumat (2/10). (Aldo Fernando)