IDXChannel - Harga emas turun pada perdagangan Senin (13/4/2026), tertekan penguatan dolar dan kembali meningkatnya kekhawatiran inflasi yang membayangi prospek penurunan suku bunga, setelah perundingan damai Amerika Serikat (AS)-Iran buntu pada akhir pekan lalu.
Emas spot melemah 0,20 persen ke USD4.740,34 per troy ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 7 April di awal sesi.
Penguatan dolar AS membuat logam mulia yang dihargakan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Kepala strategi pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan, dikutip Reuters, pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen berita.
Menurut dia, perhatian tertuju pada harga minyak mentah karena pergerakannya akan memengaruhi inflasi, yang pada akhirnya menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Setelah negosiasi gagal, militer AS menyatakan akan memblokade kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan membalas dengan menargetkan pelabuhan negara-negara Teluk.
Harga minyak pun melonjak setelah pengumuman tersebut, memicu kekhawatiran inflasi dan membatasi ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Suku bunga yang tetap tinggi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil, meskipun dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Pelaku pasar kini melihat peluang sekitar 29 persen untuk pemangkasan suku bunga AS hingga akhir tahun, turun dari 40 persen sebulan sebelumnya, menurut alat FedWatch milik CME.
Sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, harga emas spot telah turun lebih dari 10 persen.
Analis SP Angel menilai aksi jual yang dipicu konflik tersebut justru sehat bagi prospek jangka panjang emas, karena membantu mengurangi posisi spekulatif di pasar.
Di sisi lain, perak spot turun 0,2 persen ke USD75,71 per ons.
Ahli strategi pasar Sprott Asset Management, Paul Wong, menyebut ketidakpastian pasokan minyak berpotensi mendorong permintaan struktural yang kuat terhadap perak, seiring percepatan investasi di sektor panel surya fotovoltaik. (Aldo Fernando)