Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi Selat Hormuz.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan pasar tetap optimistis namun berhati-hati terhadap perkembangan tersebut.
"Kesepakatan ini tampaknya sama rapuhnya dengan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya, dan seperti yang kita ketahui, tidak ada yang bertahan lama," ujarnya.
Sebelumnya, laporan mengenai kemajuan upaya mengakhiri perang telah menekan harga minyak hingga 5 persen pada Selasa, dengan Brent ditutup di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
Analis IG dalam risetnya menyebut hambatan utama masih berkaitan dengan apakah Iran tetap bersikeras mempertahankan tingkat kendali tertentu atas Selat Hormuz, serta apakah AS akan tetap pada posisinya dan menolak tuntutan tersebut.