Sementara itu, harga Brent telah menembus resistance USD114,50-USD115 dan tengah menguji level USD117 per barel.
Jika mampu bertahan di atas USD117, harga Brent diproyeksikan bergerak menuju resistance berikutnya di kisaran USD119,50-USD120 per barel.
"RSI baru-baru ini telah memasuki wilayah jenuh beli, tetapi faktor teknikal akan menjadi kurang penting jika perang benar-benar pecah akhir pekan ini," ujar Zernov.
Ia menilai potensi gangguan terhadap arus fisik minyak kembali menjadi faktor utama yang dapat menopang harga apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas.
Terlebih, cadangan minyak global telah berkurang signifikan sejak Februari sehingga gangguan tambahan terhadap pasokan dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap pasar. (Aldo Fernando)