"Jika gencatan senjata tidak terwujud, Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup, dan ancaman Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah semakin meningkat, maka risiko lonjakan signifikan harga minyak akan sangat besar," kata Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge León.
Menurut León, sekitar 2,5 juta barel minyak Arab Saudi per hari berada dalam risiko akibat ancaman dari Houthi.
Meski demikian, analis Kpler mencatat rekor volume minyak mentah yang masih berada di atas kapal, yang diperkirakan mencapai sekitar 1,35 miliar barel, dapat membatasi kenaikan harga minyak pada fase berikutnya.
Runtuhnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz.
Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Iran juga disebut telah mendesak Houthi untuk menutup jalur pelayaran di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran. (Aldo Fernando)