sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tertinggi 4 Bulan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
29/01/2026 07:35 WIB
Harga minyak naik ke level tertinggi sejak akhir September pada Rabu (28/1/2026), didorong kekhawatiran seputar Iran serta pelemahan dolar AS yang memberi dukun
Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tertinggi 4 Bulan. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tertinggi 4 Bulan. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak naik ke level tertinggi sejak akhir September pada Rabu (28/1/2026), didorong kekhawatiran seputar Iran serta pelemahan dolar AS yang memberi dukungan tambahan.

Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup naik 1,23 persen ke USD 68,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,31 persen ke USD 63,21 per barel.

Kedua acuan tersebut menuju kenaikan bulanan terbesar secara persentase sejak Juli 2023, dengan Brent berpeluang naik sekitar 12 persen dan WTI sekitar 10 persen.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan terkait senjata nuklir, atau menghadapi serangan AS berikutnya yang disebut akan jauh lebih buruk.

Namun, Teheran menyatakan akan melawan dengan kekuatan penuh jika hal itu terjadi.

Pejabat AS sebelumnya mengatakan sebuah kapal induk AS beserta kapal-kapal perang pendukung telah tiba di Timur Tengah.

“Pasar sempat menguat karena kekhawatiran terhadap armada militer AS, tetapi kemudian tertahan oleh kemungkinan tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina,” ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip Reuters.

Negosiasi trilateral antara Rusia, Ukraina, dan AS dijadwalkan kembali berlangsung di Abu Dhabi pada 1 Februari, menurut kantor berita Rusia Interfax yang mengutip pernyataan Kremlin.

Dari sisi pasokan, kejutan penurunan stok turut menopang harga minyak. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari.

Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 1,8 juta barel.

“Laporan yang solid, dengan kenaikan moderat pada bensin dan distilat serta penurunan persediaan minyak mentah yang lebih besar. Ekspor minyak mentah yang kuat dan impor yang lebih rendah mendorong penurunan stok kembali terjadi. Laporan berikutnya akan lebih menarik untuk melihat dampak cuaca dingin terhadap data,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Badai musim dingin melanda sebagian besar wilayah AS pada akhir pekan lalu, memberi tekanan pada infrastruktur energi dan jaringan listrik. Produsen minyak AS mulai mengaktifkan kembali sumur-sumur mereka pada Rabu.

Produksi minyak domestik diperkirakan turun sekitar 600.000 barel per hari, atau sekitar 4 persen dari total output.

Pelemahan dolar AS juga menjaga harga tetap tinggi. Indeks dolar berada di sekitar level terendah hampir empat tahun terhadap sekeranjang mata uang lain, membuat komoditas berdenominasi dolar seperti minyak menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) AS menahan suku bunga pada Rabu dengan alasan inflasi yang masih relatif tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid, serta memberikan sedikit sinyal terkait waktu penurunan biaya pinjaman berikutnya.

Di tempat lain, hilangnya produksi di Kazakhstan turut menopang reli harga, meskipun negara anggota OPEC+ tersebut berharap produksi di ladang Tengiz dapat pulih secara bertahap dalam waktu sekitar sepekan.

Namun, sejumlah sumber menyebut proses pemulihan tersebut bisa memakan waktu lebih lama. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement