"Pasar minyak masih sangat sensitif terhadap setiap berita dari Timur Tengah," ujar Analis UBS Giovanni Staunovo.
Menurut dia, kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang segera terjadi telah mendorong harga minyak naik pada pekan lalu. Namun, harga kemudian anjlok tajam pada awal pekan ini seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran.
Penurunan harga juga terjadi setelah Brent mengakhiri Oktober di level tertinggi dalam enam bulan. Saat itu, pasar mencemaskan konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pemilu sela AS pada Selasa (3/11).
Pembicaraan tersebut berlangsung setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.
Meski demikian, terdapat pula tanda-tanda peningkatan pengiriman minyak dari sejumlah negara eksportir utama.