Meski demikian, para analis Teluk memperingatkan bahwa kesepakatan yang membuat Iran terlihat sebagai pihak yang menang dan Trump tampak kalah justru berpotensi memicu tindakan gegabah, bukan meredakan ketegangan.
Dalam wawancara dengan Financial Times pada Selasa (3/11/2026), Trump mengatakan AS belum memiliki rencana segera untuk menyerang Iran.
Pada Rabu, Trump juga mengakui bahwa perang dengan Iran turut berperan dalam kekalahan besar Partai Republik pada pemilu paruh waktu. Partai Demokrat berhasil merebut kendali DPR dan Senat AS.
Wakil Presiden AS JD Vance turut mengambil jarak dari keputusan pemerintah untuk berperang.
Pada Rabu, dia mempertanyakan manfaat perang tersebut dan menyebut konflik dengan Iran sebagai faktor utama di balik penolakan keras pemilih terhadap Partai Republik.