IDXChannel - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin (31/8/2026) setelah Amerika Serikat (AS) menyerang peluncur roket Iran di dekat Selat Hormuz.
Iran kemudian melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan militer AS di Yordania, sehingga memicu kembali kekhawatiran gangguan pengiriman minyak melalui jalur strategis tersebut.
Melansir Investing, kontrak berjangka Brent naik 3,5 persen menjadi USD91,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,6 persen ke level USD86,40 per barel.
Seorang pejabat AS mengatakan pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya terpantau bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke jalur strategis tersebut.
Iran kemudian melancarkan serangan rudal terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Yordania sebagai aksi balasan atas serangan di Pulau Larak. Berdasarkan laporan Fox News yang mengutip sumber AS, hampir seluruh rudal yang masuk berhasil dicegat dan sejauh ini tidak menimbulkan dampak signifikan.
Analis ING menilai, perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah harga minyak, terutama terkait kemungkinan konflik berkembang menjadi serangkaian serangan lanjutan dari kedua pihak.
“Kuncinya adalah apakah ini memicu serangan lebih lanjut dari kedua belah pihak dan apakah hal tersebut membuat perusahaan pelayaran enggan melintasi Selat Hormuz,” tulis analis ING dalam catatannya.
Menurut analis tersebut, produsen minyak di kawasan Teluk dalam beberapa pekan terakhir mulai lebih nyaman mengirimkan minyak melalui jalur strategis tersebut. Rata-rata sekitar 5 juta barel minyak per hari tercatat melintasi Selat Hormuz.
Namun, eskalasi konflik berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap arus pengiriman tersebut. Kekhawatiran tersebut menjadi perhatian utama pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak global.
Adapun Harga Brent berulang kali bergerak tajam mengikuti perubahan ekspektasi terhadap eskalasi militer, negosiasi gencatan senjata, serta prospek pemulihan lalu lintas pelayaran secara berkelanjutan melalui Selat Hormuz.
Pada awal Agustus 2026, keraguan terhadap kemajuan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran turut mendorong harga Brent ke level penutupan tertinggi sejak akhir Juli. Iran sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup apabila Washington tidak mengubah pendekatannya.
(DESI ANGRIANI)