IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melonjak hampir 3 persen persen pada perdagangan Senin (31/8/2026) setelah aksi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terjadi.
Eskalasi konflik yang telah memasuki bulan keenam itu kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Kontrak minyak mentah Brent ditutup meningkat 2,71 persen menjadi USD90,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melesat 2,83 persen menjadi USD85,76 per barel.
Dalam perdagangan intraday, harga Brent sempat menyentuh USD91,52 per barel, level tertinggi sejak 25 Agustus.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan berjanji akan memberikan respons keras setelah Iran meluncurkan rudal ke dua pangkalan udara AS di Yordania pada Minggu malam.
Serangan tersebut merupakan respons Iran atas serangan terhadap Pulau Larak.
"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada respons," kata Trump, seperti dikutip seorang reporter Fox News.
Kekhawatiran terhadap pasokan juga meningkat setelah cadangan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS dilaporkan turun sekitar 3,1 juta barel pada pekan lalu menjadi 286,6 juta barel.
Pasar kini mencermati apakah ketegangan antara AS dan Iran dapat kembali mereda.
Pada Minggu, dilansir dari Reuters, Trump menyatakan melalui unggahan media sosial bahwa pusat energi Iran di Pulau Kharg sedang "hancur berkeping-keping".
Namun, tidak terdapat bukti bahwa pulau tersebut sedang berada di bawah serangan.
Unggahan yang juga memuat video buatan kecerdasan buatan (AI) itu tidak menyertakan rincian lebih lanjut. Iran membantah Pulau Kharg diserang dan menyatakan kegiatan operasional minyak di wilayah tersebut tetap berlangsung.
Pada Senin, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan unggahan Trump tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada Iran.
Sementara itu, para mediator masih berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi jalur strategis tersebut.
Namun, pembicaraan sejauh ini belum menunjukkan kemajuan berarti. Data pelayaran juga menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari. (Aldo Fernando)