sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Melonjak Hampir 4 Persen, Iran Tak Gentar Ancaman Trump

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
24/09/2026 06:49 WIB
Harga minyak ditutup naik hampir 4 persen per barel pada perdagangan Rabu (23/9/2026) dalam perdagangan yang berfluktuasi.
Harga Minyak Melonjak Hampir 4 Persen, Iran Tak Gentar Ancaman Trump. (Foto: Getty Images)
Harga Minyak Melonjak Hampir 4 Persen, Iran Tak Gentar Ancaman Trump. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Harga minyak ditutup naik hampir 4 persen per barel pada perdagangan Rabu (23/9/2026) dalam perdagangan yang berfluktuasi.

Pasar mencermati sikap Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menegaskan Iran tidak akan menyerah, sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa dirinya dapat “memusnahkan” Iran.

Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup melesat 3,86 persen menjadi USD103,08 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1,81 persen menjadi USD92,16 per barel.

Harga minyak terdorong pidato Pezeshkian di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Pada Rabu, Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan pernah menyerah kepada AS, meski tetap meyakini jalur diplomasi.

Sehari sebelumnya, Trump menyampaikan ancaman terhadap Iran dalam forum yang sama.

Teheran saat ini masih meninjau respons AS atas proposal untuk mengakhiri permusuhan, meski masih terdapat banyak perbedaan, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters.

Pejabat tersebut mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS terhadap Iran menjadi salah satu hal yang dibahas dalam perundingan tidak langsung pada Selasa (22/9/2026).

Namun, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan pada Rabu bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama persyaratan Iran belum dipenuhi.

Di sisi lain, persediaan minyak mentah AS meningkat 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September 2026, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).

Hasil tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis yang disurvei Reuters. Mereka sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun 641.000 barel. Sementara itu, stok bahan bakar tercatat turun.

Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan di pasar produk olahan.

Kontrak diesel ultra-rendah sulfur turun sekitar 5 persen setelah Politico melaporkan pemerintahan Trump sedang menyiapkan rencana larangan ekspor diesel selama 90 hari.

Namun, Gedung Putih kemudian membantah laporan tersebut.

Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengatakan pada Rabu bahwa larangan ekspor diesel tidak akan efektif.

Sejumlah analis dan pelaku pasar juga memperingatkan kebijakan tersebut hanya akan sedikit membantu meredakan tingginya harga energi, bahkan berpotensi memperburuk pasokan global dan menambah gangguan terhadap perekonomian. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement