IDXChannel - Harga minyak melonjak sekitar 4 persen pada Senin (13/4/2026) setelah militer Amerika Serikat (AS) mulai memblokade kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, memicu ancaman pembalasan dari Teheran terhadap negara-negara Teluk.
Tindakan tersebut menyusul gagalnya pembicaraan akhir pekan untuk mengakhiri perang Iran.
Kontrak berjangka (futures) ditutup di bawah level tertinggi harian, melanjutkan volatilitas yang menjadi ciri perdagangan minyak sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran pada 28 Februari, yang memicu perang berkepanjangan lebih dari enam pekan.
Di pasar fisik, harga tetap melonjak, namun pelaku di pasar berjangka cenderung lebih berhati-hati, dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sulit diprediksi, berubah dari ancaman menjadi harapan tercapainya kesepakatan cepat untuk mengakhiri konflik.
Minyak Brent melonjak 4,4 persen dan ditutup di USD99,36 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,6 persen ke USD99,08. Sebelumnya dalam sesi perdagangan, Brent sempat melonjak lebih dari USD 8 per barel dan WTI lebih dari USD 9.
Perang ini menyebabkan gangguan terbesar dalam sejarah terhadap pasokan minyak dan gas global, setelah Iran menghambat lalu lintas di Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair dunia.
Trump pada Senin mengatakan 34 kapal melintasi selat tersebut pada Minggu, meski angka ini tidak dapat diverifikasi oleh Reuters. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal melintas setiap hari.
Kenaikan harga energi mulai menekan konsumen di seluruh dunia.
Di AS, pengemudi mulai mengurangi penggunaan kendaraan seiring harga bensin dan solar mencapai level tertinggi sejak musim panas 2022, pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Arab Saudi menyatakan penjualan minyak mentah ke China diperkirakan turun pada Mei.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan negara-negara anggota perlu berkoordinasi dalam mengendalikan harga energi, setelah tagihan bahan bakar fosil melonjak EUR22 miliar (USD25,70 miliar) sejak perang dimulai.
Sejumlah negara juga mulai mengumumkan langkah darurat untuk meredam lonjakan biaya energi.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan proyeksi permintaan minyak global pada kuartal II sebesar 500.000 barel per hari.
Pada Senin, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan negara-negara anggota dapat melepas cadangan minyak tambahan jika diperlukan, meski ia berharap langkah tersebut tidak diperlukan.
Di pasar spot, harga minyak fisik untuk pengiriman segera ke Eropa diperdagangkan pada rekor tertinggi sekitar USD 150 per barel.
Analis RBC Capital Markets Helima Croft mengatakan, jika Trump benar-benar merealisasikan ancaman blokade dengan pengerahan kapal, maka kesenjangan antara pasar berjangka dan pasar fisik bisa segera menyempit.
Trump juga memperingatkan bahwa kapal cepat Iran yang mendekati blokade maritim AS akan dihancurkan.
Namun, sekutu NATO menyatakan tidak akan terlibat dalam rencana blokade tersebut dan hanya akan turun tangan setelah konflik berakhir.
Direktur energi berjangka Mizuho, Bob Yawger, mengatakan sudah beberapa hari sejak Iran menyerang negara tetangga, sementara AS dan Israel belum kembali melancarkan serangan. Ia menilai masih ada harapan meredanya konflik.
“Untuk saat ini, gencatan senjata masih bertahan, dan kedua pihak tampaknya masih terus berunding,” ujarnya. (Aldo Fernando)