Berakhirnya aksi saling serang melalui udara antara AS dan Iran serta rencana dimulainya kembali perundingan kedua negara pekan depan meningkatkan harapan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka.
Senior Analyst Price Futures Group Phil Flynn menilai penurunan harga minyak terjadi karena pasar yakin jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan ditutup dalam waktu lama.
"Yang mengejutkan, harga minyak justru turun setelah sempat melonjak mendekati USD76 per barel, meskipun Selat Hormuz kembali praktis ditutup. Hal ini terutama didorong keyakinan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat tidak akan membiarkan Selat Hormuz ditutup untuk waktu yang lama," ujar Flynn.
Pada Kamis, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Harga minyak kemudian memangkas penguatan setelah Reuters melaporkan bahwa negosiator Qatar berada di Iran untuk bertemu pejabat setempat guna meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi kelanjutan perundingan yang lebih luas.