Analis ING menilai kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan meningkatnya kembali eskalasi konflik.
"Kita kemungkinan harus menunggu hingga setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah," tulis analis ING dalam sebuah catatan.
Sejumlah laporan media juga menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan operasi militer singkat dan intensif terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu tersebut. Potensi langkah militer itu menambah ketidakpastian terhadap prospek pasokan minyak global.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak turut ditopang data persediaan minyak mentah AS. American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 2,03 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober 2026.
Penurunan tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan persediaan meningkat 800.000 barel. Sebelumnya, persediaan minyak mentah AS juga tercatat turun 4,93 juta barel.
(DESI ANGRIANI)