Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga telah menyetujui kuota produksi bijih nikel (RKAB) untuk 2026 pada level yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, memperkuat kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
Analis Guotai Junan menilai, meskipun penurunan kuota bukan hal baru, kondisi saat ini menunjukkan realisasi yang lebih nyata di lapangan.
Hal ini mendorong kembalinya dana spekulatif ke pasar, terutama karena tambahan kuota yang diharapkan belum terealisasi.
Dari sisi lain, harga juga ditopang oleh kelangkaan sulfur yang masih berlanjut, seiring penutupan Selat Hormuz akibat mandeknya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sebelum konflik pecah, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar separuh pasokan sulfur laut global.