Ibrahim menjelaskan, masyarakat saat ini sangat melek terhadap informasi global. Ketegangan di Timur Tengah, menyusul pengerahan kapal induk kedua Amerika Serikat (AS) yang bersiap menghadapi Iran, menjadi alarm bagi investor untuk mencari aset aman (safe haven).
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut mendongkrak ekspektasi kenaikan harga emas di masa depan. Faktor politik di AS, mulai dari Pemilu sela hingga spekulasi kebijakan The Fed di bawah kendali Kevin Warsh, menambah ketidakpastian yang justru menguntungkan harga emas.
“Masyarakat tahu bahwa harga logam mulia secara jangka pendek, menengah, dan panjang akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Wajar kalau seandainya masyarakat saat ini kembali mencari aset yang aman sebagai lindung nilai,” katanya.
Salah satu pemicu kericuhan di JCC adalah keinginan masyarakat untuk memiliki emas secara fisik secara langsung. Ibrahim menyoroti, meski sistem bullion bank dan emas digital sudah tersedia, kepercayaan masyarakat tetap lebih tinggi pada kepemilikan fisik yang seringkali sulit ditemukan di gerai konvensional maupun pegadaian.