Selain itu, potensi biodiversitas Indonesia juga menjadi bagian dari pengembangan inovasi kesehatan. BRIN mengembangkan senyawa bioaktif, kandidat vaksin dan antibodi, model sel untuk screening obat, serta teknologi deteksi DNA yang dapat mendukung kebutuhan industri halal.
Di bidang nanoteknologi dan material, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN, Ratno Nuryadi menyampaikan berbagai pengembangan yang berpotensi mendukung industri kesehatan. Di antaranya implan tulang dan gigi, bone graft, alat kesehatan, bahan baku farmasi, kosmetik, serta teknologi scale-up dari skala laboratorium menuju produksi industri.
BRIN juga mengembangkan bahan farmasi seperti microcrystalline cellulose (MCC) dan sodium starch phosphate (SSP) yang dapat mendukung kebutuhan bahan baku industri.
Sementara di bidang teknologi nuklir diarahkan untuk memperkuat kemandirian radiofarmaka nasional. Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Tita Puspitasari menyampaikan pengembangan produk radiofarmaka untuk mendukung diagnosis dan terapi penyakit, termasuk kanker.
Produk yang dikembangkan antara lain kit radiofarmaka, Iodium-131, dan generator Mo-Tc. Pengembangannya diarahkan tidak hanya pada penguasaan teknologi, tetapi juga menuju produksi dan komersialisasi bersama mitra industri.
(Rahmat Fiansyah)