Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang mendekati USD100 per barel berpotensi menambah tekanan terhadap biaya impor energi Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko inflasi sekaligus mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia.
Untuk perdagangan Jumat (2/10/2026), Hendra memperkirakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang tinggi. Level 6.000 menjadi area psikologis yang perlu diperhatikan investor.
"Untuk besok, level 6.000 menjadi area psikologis yang sangat penting. Selama IHSG mampu bertahan di sekitar level tersebut, masih ada peluang terjadi technical rebound setelah empat hari perdagangan berturut-turut mengalami penurunan," tutur dia.
Sebaliknya, apabila IHSG kembali menembus ke bawah level 6.000, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 5.900.
Sementara itu, sinyal pemulihan tren baru akan terlihat apabila IHSG mampu menembus kisaran 6.100-6.150 dan didukung oleh peningkatan volume transaksi.