Dari pasar komoditas, risiko geopolitik masih menjadi variabel utama bagi pergerakan harga minyak. Eskalasi tensi AS-Iran dan serangan Houthi terhadap East-West Pipeline milik Saudi Aramco, yang menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, mendorong harga Brent kembali menembus USD100 per barel. Sementara itu, WTI tercatat menguat 12,38 persen secara bulanan menjadi USD92,41 per barel.
"Harga minyak memang mulai termoderasi di pekan terakhir September seiring berlangsungnya pembicaraan AS-Iran terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Namun, hasil perundingan tersebut akan menjadi penentu utama arah harga energi di bulan Oktober, sekaligus ekspektasi inflasi global," tuturnya.
Dari dalam negeri, David menilai kebijakan Bank Indonesia juga akan menjadi perhatian investor. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam RDG 22-23 September 2026 dengan fokus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
"Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Per 25 September, rupiah berada di kisaran Rp17.903 per USD dan JISDOR di Rp17.917 per USD. Meski begitu, cadangan devisa yang solid di sekitar USD146,5 miliar memberikan bantalan bagi stabilisasi nilai tukar," katanya.
Tekanan inflasi juga perlu dicermati. Inflasi Agustus naik menjadi 3,19 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dari 2,88 persen pada Juli, didorong oleh volatile food dan inflasi inti. Risiko tambahan dari harga energi serta potensi El Nino terhadap pangan dinilai membuat ruang pelonggaran moneter dalam waktu dekat semakin terbatas.