Menurut Kevin, investor masih mempertimbangkan daya tarik obligasi pemerintah berimbal hasil tinggi serta perkembangan nilai tukar rupiah.
Ia menyebut, pandangan terhadap pasar saham Indonesia baru akan berubah lebih positif apabila dolar AS melemah secara konsisten di bawah Rp18.000 per USD, imbal hasil obligasi turun, dan aliran dana asing kembali masuk.
Hingga kondisi tersebut terpenuhi, kata Kevin, setiap penguatan pasar kemungkinan masih akan dipandang sebagai peluang taktis jangka pendek, bukan sebagai awal dari tren kenaikan yang berkelanjutan.
Sementara itu, head of research Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim menilai pemulihan pasar saham dan rupiah membutuhkan dukungan dari perbaikan struktural, bukan hanya sentimen jangka pendek.
Jeffrosenberg menjelaskan, investor masih membutuhkan bukti adanya perbaikan struktural dalam pengambilan kebijakan, seperti arah kebijakan yang lebih jelas, konsistensi kelembagaan yang lebih kuat, serta iklim usaha yang lebih stabil dan dapat diprediksi.