IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Senin (15/6/2026), seiring meredanya ketegangan geopolitik global setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara.
Sentimen positif tersebut mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko, sekaligus mengangkat rupiah dan menekan harga minyak dunia.
IHSG ditutup menguat 4,12 persen ke level 6.254,97, bahkan sempat menyentuh level 6.345,8 sepanjang perdagangan.
Investor asing masih membukukan jual bersih (net sell) Rp107,13 miliar di pasar reguler pada Senin. Dalam sepekan, outflow asing Rp5,60 triliun dan dalam sebulan nilainya menembus Rp27,78 triliun.
Menurut Phintraco Sekuritas, kesepakatan damai AS-Iran dan potensi dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi katalis utama penguatan pasar saham domestik.
Optimisme tersebut turut menekan harga minyak yang terkoreksi lebih dari 4 persen pada Senin dan kembali melemah sekitar 5 persen pada Selasa. Harga minyak mentah WTI turun ke kisaran USD76,05 per barel, sedangkan Brent berada di sekitar USD78,96 per barel.
Penurunan harga energi menjadi sentimen positif karena dapat meredakan tekanan inflasi dan mengurangi risiko pelebaran defisit APBN.
“Rupiah ditutup menguat 0,85 persen di level Rp17.709 per USD. Sektor basic materials membukukan kenaikan terbesar sebesar 7,26 persen,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai investor masih membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk memastikan keberlanjutan pemulihan pasar.
Analis iFAST Capital Kevin Khaw Khai Sheng mengatakan, dikutip Dow Jones Newswires, kenaikan IHSG saat ini masih perlu dikonfirmasi oleh perbaikan sentimen yang lebih permanen.
Menurut Kevin, investor masih mempertimbangkan daya tarik obligasi pemerintah berimbal hasil tinggi serta perkembangan nilai tukar rupiah.
Ia menyebut, pandangan terhadap pasar saham Indonesia baru akan berubah lebih positif apabila dolar AS melemah secara konsisten di bawah Rp18.000 per USD, imbal hasil obligasi turun, dan aliran dana asing kembali masuk.
Hingga kondisi tersebut terpenuhi, kata Kevin, setiap penguatan pasar kemungkinan masih akan dipandang sebagai peluang taktis jangka pendek, bukan sebagai awal dari tren kenaikan yang berkelanjutan.
Sementara itu, head of research Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim menilai pemulihan pasar saham dan rupiah membutuhkan dukungan dari perbaikan struktural, bukan hanya sentimen jangka pendek.
Jeffrosenberg menjelaskan, investor masih membutuhkan bukti adanya perbaikan struktural dalam pengambilan kebijakan, seperti arah kebijakan yang lebih jelas, konsistensi kelembagaan yang lebih kuat, serta iklim usaha yang lebih stabil dan dapat diprediksi.
“Hal-hal tersebut penting untuk memulihkan kepercayaan dan membangun kembali rasa aman bagi investor asing maupun pelaku usaha domestik,” ujar Jeffrosenberg.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat IHSG mulai menunjukkan sinyal perbaikan setelah ditutup di atas MA20 dan MACD melanjutkan pembentukan histogram positif. Namun, indikator Stochastic RSI berpotensi membentuk death cross di area overbought.
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 6.150-6.400 pada perdagangan Rabu (17/6). Kinerja pasar selanjutnya akan bergantung pada keberlanjutan sentimen global dan keyakinan investor terhadap pemulihan ekonomi domestik.
Dari BI hingga MSCI
Menurut Phintraco sebelumnya, perhatian investor domestik pekan ini akan tertuju pada hasil Global Market Accessibility Review MSCI dan rebalancing indeks FTSE yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni.
Kedua agenda tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan saham-saham yang masuk dalam konstituen indeks global, terutama terkait aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
MSCI juga akan mengumumkan Annual Market Classification Review pada 24 Juni, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar karena akan menentukan apakah pembekuan indeks terhadap Indonesia akan dicabut serta apakah status Indonesia sebagai Emerging Market akan dipertahankan atau diturunkan menjadi Frontier Market.
Selain katalis dari indeks global, pelaku pasar juga akan mencermati keputusan sejumlah bank sentral utama dunia. Bank of Japan (BoJ) dan Reserve Bank of Australia (RBA) dijadwalkan menetapkan kebijakan suku bunga pada 16 Juni, disusul Federal Reserve (The Fed) pada 17 Juni dan Bank of England (BoE) pada 18 Juni.
Dari dalam negeri, investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 18 Juni. Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.