Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Juni 2025 sekaligus menandai kontraksi kedua sepanjang tahun ini. Penurunan terutama dipicu oleh koreksi pesanan baru serta melemahnya penjualan ekspor.
Tekanan juga terlihat dari kinerja perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan mencatat defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, menjadi defisit pertama sejak April 2020.
Ekspor turun 5,73 persen secara tahunan, berlawanan dengan ekspektasi pertumbuhan 6,4 persen.
Sementara itu, impor meningkat 22,16 persen secara tahunan, terutama didorong kenaikan impor minyak dan gas.
Di sisi lain, inflasi Indonesia kembali meningkat. Laju inflasi mencapai 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026, naik dari 3,08 persen pada Mei 2026 dan melampaui perkiraan 3,2 persen.