sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Terus Tertekan, Analis Sarankan Strategi Defensif

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
13/10/2026 10:21 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di bawah level psikologis 6.000 pada perdagangan Selasa (13/10/2026) pagi.
IHSG Terus Tertekan, Analis Sarankan Strategi Defensif. (Foto: IDXChannel)
IHSG Terus Tertekan, Analis Sarankan Strategi Defensif. (Foto: IDXChannel)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di bawah level psikologis 6.000 pada perdagangan Selasa (13/10/2026) pagi.

Di tengah tekanan pasar dan ketidakpastian sentimen global, analis menyarankan investor mengambil posisi lebih defensif dengan mengurangi eksposur saham dan mencermati level teknikal krusial.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.12 WIB, IHSG merosot 0,39 persen ke level 5.912.

Indeks sempat menyentuh level terendah harian 5.829,68 sebelum bergerak dengan volatilitas tinggi.

BRI Danareksa Sekuritas menempatkan area 5.850 sebagai support terdekat yang perlu dicermati.

Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, risiko koreksi lanjutan perlu diwaspadai.

Sementara itu, resistance terdekat berada di level 6.000, disusul 6.214. Selama IHSG belum mampu kembali menembus area tersebut, tren pergerakan indeks masih cenderung bearish.

Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga masih berada di zona negatif dengan histogram negatif. Kondisi ini mengindikasikan momentum pelemahan belum mereda.

Dari sisi sentimen, pasar masih mencermati perkembangan kebijakan MSCI dan menantikan keputusan lanjutan pada November mendatang.

Ketidakpastian mengenai arah kebijakan indeks tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap pasar saham Indonesia.

Investor juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September pada 14 Oktober.

Konsensus memperkirakan inflasi tahunan meningkat menjadi 3,6 persen dari 3,4 persen, sedangkan inflasi inti diproyeksikan naik menjadi 2,5 persen dari 2,4 persen.

Jika inflasi AS melampaui ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap aset di pasar negara berkembang.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat membuka ruang bagi stabilisasi pasar.

Ketidakpastian geopolitik turut menjadi perhatian setelah eskalasi konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.

Harga minyak Brent dilaporkan sempat naik sekitar 1,9 persen ke USD106,69 per barel, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan tekanan inflasi global.

Di sisi teknikal, Maybank Sekuritas dalam analisis Senin (12/10) menilai IHSG berpotensi membentuk dua pola bearish, yakni Rising Wedge dan Head and Shoulders.

Level 6.000 menjadi area krusial yang perlu diperhatikan.

Jika IHSG menembus ke bawah level tersebut dan bertahan di bawahnya, risiko koreksi lanjutan terbuka, dengan target teoritis kedua pola teknikal tersebut berada di kisaran 5.300.

Meski demikian, level 5.300 bukan kepastian arah pergerakan IHSG, melainkan proyeksi teknikal yang bergantung pada konfirmasi penembusan level kunci.

Jika skenario tersebut terkonfirmasi, risiko terbentuknya level terendah baru (lower low) akan semakin terbuka.

Maybank Sekuritas juga menyoroti struktur harga IHSG yang masih bearish karena indeks berada di bawah rata-rata pergerakan 20, 50, 100, dan 200 hari (MA20/50/100/200).

Dalam kondisi tersebut, strategi yang lebih defensif dinilai relevan.

“Strategi saat ini lebih defensif, yaitu disarankan meningkatkan cash, mengurangi eksposur saham, dan menunggu konfirmasi pembalikan arah sebelum kembali agresif masuk ke pasar,” tulis Maybank Sekuritas.

Level teknikal yang dicermati Maybank Sekuritas meliputi support di 6.000, 5.960, 5.840, dan 5.607, serta resistance terdekat di 6.200.

Sementara itu, target bearish berada di kisaran 5.300 jika penembusan ke bawah level kunci terkonfirmasi. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement