Di pasar valuta, rupiah turut mengalami tekanan. Mata uang Garuda melemah 0,49 persen ke level Rp17.950 per USD, mendekati kembali level psikologis Rp18.000 per USD.
BRI Danareksa menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS setelah data ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan ketahanan ekonomi yang meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer).
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga masih terbebani oleh ketidakpastian terkait evaluasi MSCI.
Investor asing dinilai masih berhati-hati karena reformasi pasar modal Indonesia belum sepenuhnya mengembalikan kepercayaan dan membalikkan tren arus keluar modal.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.