BRI Danareksa juga menyoroti pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.100 per USD.
Tekanan dolar AS dan kehati-hatian investor terhadap transisi kepemimpinan BI dinilai berpotensi menekan saham-saham yang memiliki eksposur impor tinggi serta memengaruhi arus modal asing.
Selain itu, harga minyak dunia kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Brent naik lebih dari 4 persen ke kisaran USD88 per barel setelah konflik Iran-AS kembali memanas, sementara stok minyak mentah AS turun 3,3 juta barel berdasarkan data API.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global, membebani rupiah dan subsidi energi, meski di sisi lain dapat menjadi katalis positif bagi saham sektor energi dan migas.
Di pasar global, investor juga masih mencermati musim laporan keuangan emiten-emiten besar di AS. Pergerakan saham teknologi dan hasil kinerja korporasi diperkirakan menjadi penentu sentimen pasar global dalam jangka pendek.