AALI
9350
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2500
ACES
720
ACST
169
ACST-R
0
ADES
6175
ADHI
745
ADMF
8125
ADMG
173
ADRO
3140
AGAR
314
AGII
2340
AGRO
845
AGRO-R
0
AGRS
116
AHAP
83
AIMS
246
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1180
AKSI
270
ALDO
775
ALKA
292
ALMI
0
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/10 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.47
-0.12%
-0.62
IHSG
7086.24
-0.23%
-16.64
LQ45
1007.80
-0.09%
-0.91
HSI
19610.84
-1.96%
-392.60
N225
27819.33
-0.65%
-180.63
NYSE
0.00
-100%
-15305.80
Kurs
HKD/IDR 195
USD/IDR 14,872
Emas
856,617 / gram

Inflasi Tinggi, Pengamat: Sinyal Bahaya Bagi Perekonomian Indonesia

MARKET NEWS
Heri Purnomo
Jum'at, 01 Juli 2022 22:14 WIB
dengan inflasi tinggi, membuat masyarakat harus mengeluarkan baiaya lebih mahal untuk mencukupi kebutuhannya, dibandingkan saat inflasi masih melandai.
Inflasi Tinggi, Pengamat: Sinyal Bahaya Bagi Perekonomian Indonesia (foto: MNC Media)
Inflasi Tinggi, Pengamat: Sinyal Bahaya Bagi Perekonomian Indonesia (foto: MNC Media)

IDXChannel - Nilai inflasi nasional yang mencapai 4,35 persen secara tahunan (year on year/yoy) dianggap sebagai sinyal bahaya bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Hal itu lantaran dengan inflasi tinggi, membuat masyarakat harus mengeluarkan baiaya lebih mahal untuk mencukupi kebutuhannya, dibandingkan saat inflasi masih melandai.

"Ini sinyal bahaya, kan seharusnya on the track. Inflasi yang terjadi  saat ini membuat masyarakat harus  membayar lebih mahal untuk beberapa pengeluarannya," ujar Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, Jumat (1/7/2022). 

Jika inflasi ini terus bergerak meningkat, menurut Tauhid, maka akan mengakibatkan daya beli masyarakat berkurang, dan yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi yang juga akan melambat. 

"Jelas, karena dengan kenaikan (inflasi) ini akan berdampak kepada daya beli masyarakat yang berkurang," tutur Tauhid.

Dijelaskannya, inflasi yang terjadi Indonesia saat ini dipengaruhi oleh harga-harga pangan yang naik serta adanya ekspektasi masyarakat terhadap potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dengan ekspektasi tersebut, meski kenaikan belum benar-benar terjadi, namun di lapangan sudah mulai terjadi penyesuaian atau antisipasi harga. 

"Terutama para pelaku usaha yang harus melakukan penyesuaian harga lebih dulu, agar harga-harga produk bisa katakanlah tidak terlalu tinggi di kemudian hari kenaikannya," ungkap Tauhid.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 4,35 persen yoy pada Juni 2022. Kepala BPS, Margo Yuwono, menyebutkan bahwa inflasi tahunan yang berada di atas empat persen ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2017 lalu.

"Inflasi kita secara yoy pada Juni 4,35 persen ini tertinggi sejak Juni 2017, dimana pada saat itu inflasi 4,37 persen," ujar Margo, dalam keterangan resminya, Jumat (1/7/2022).

Menurut Margo, penyumbang kenaikan inflasi kali ini diantaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,47 persen, atau terjadi inflasi 1,77 persen secara bulanan (month to month/mtm) serta Komoditas cabai merah sebesar 0,24 persen. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD