Dradjad juga menyoroti komposisi portofolio MSCI yang menurutnya memiliki bobot besar pada saham-saham Amerika Serikat dan sektor teknologi. Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi pertimbangan investor dalam menyikapi penilaian MSCI terhadap pasar saham Indonesia.
"Jadi, bobot Amerika terlalu besar di situ. Jadi, yang dilakukan MSCI itu memang betul bahwa kita harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola kita perlu kita perbaiki. Tetapi, teman-teman investor juga perlu hitung sendiri, Anda lebih tahu pasar modal kita," tutur dia.
Dia kemudian mencontohkan kondisi pasar saham Jerman. Menurut Dradjad, indeks DAX Jerman dapat menguat ketika saham-saham pilihan MSCI justru mencatatkan kinerja negatif. Hal itu menunjukkan investor tetap memiliki ruang untuk menilai kondisi pasar berdasarkan analisis dan keyakinan terhadap fundamental perusahaan.
Dradjad berharap investor domestik dapat mengambil pelajaran dari kondisi tersebut dengan mencermati kinerja emiten dan perkembangan reformasi pasar modal Indonesia, alih-alih hanya mengikuti perubahan sentimen global.
"Tolong teman investor, perkuat analisis kalian, perkuat model kalian dan lebih independen. Harus bisa menghitung return saham sendiri, bisa tahu kekuatan sendiri, sehingga kita tidak gampang panik ketika ada pengumuman," tuturnya.