"Pertama-tama, kita mau sampaikan bahwa penerapan ESG di perusahaan kami itu sudah merupakan sebagai strategi bisnis, bukan hanya sebagai program terpisah dan itu sudah kami buktikan dengan kami sudah bisa bertransformasi dari bisnis yang berbasis batubara menjadi bisnis dengan sustainable infrastructure yang berkelantutan," ujar Juli.
Untuk merealisasikan komitmen tersebut, perseroan kini berfokus pada tiga pilar bisnis infrastruktur berkelanjutan, yaitu pengelolaan sampah dan limbah, pengembangan energi terbarukan, serta pembangunan ekosistem kendaraan listrik (motor listrik) di Indonesia.
Melalui peta jalan jangka panjang bertajuk 'TBS 2030', TOBA membidik pencapaian netralitas karbon (carbon neutral) pada 2030. Lewat pilar ini, perseroan membuktikan bahwa transisi menuju bisnis hijau tidak mengorbankan kinerja keuangan.
Juli mengungkapkan dua tantangan utama dalam transformasi ini, yaitu meyakinkan investor mengenai profitabilitas bisnis hijau serta kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mengadopsi model bisnis baru.
Kekhawatiran pasar dijawab lewat kinerja kuartal I-2026, di mana pendapatan (revenue) perseroan tumbuh di kisaran 20 persen dan laba kotor melesat hingga 46 persen.