Dari sisi skala usaha, penggabungan tersebut mempertahankan posisi Mitratel sebagai pemilik portofolio menara terbesar di Indonesia.
Perusahaan juga masih memiliki ruang untuk meningkatkan utilisasi aset melalui kenaikan tenancy ratio secara bertahap menuju level di atas 1,6 kali (x) dalam jangka menengah.
Hingga semester I-2026, tenancy ratio MTEL tercatat sebesar 1,57x, meningkat dari 1,53x pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peluang tersebut turut didukung oleh kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang meningkat seiring dengan pengembangan jaringan 5G dan layanan Fixed Wireless Access (FWA).
Analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja dan Wilbert Alfin, dalam riset sebelumnya menyebut FWA dan fiberisasi sebagai sejumlah katalis yang berpotensi mendukung kinerja MTEL, khususnya untuk menopang ekspansi jaringan 5G operator seluler.