Selain minyak, harga emas juga diprediksi ikut terdorong naik seiring meningkatnya ketidakpastian global. Emas yang dikenal sebagai aset safe haven akan menjadi pilihan utama investor di tengah risiko geopolitik dan potensi inflasi akibat kenaikan harga energi.
Menurut Ibrahim, harga emas dunia berpotensi menembus level USD4.878 hingga USD5.080 per troy ounce. Jika skenario tersebut terjadi, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan bisa mencapai Rp3 juta per gram.
Dia menjelaskan, meningkatnya tensi geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga emas. Kondisi ini mendorong investor global mengalihkan dana dari aset berisiko ke emas dan dolar AS.
Di sisi lain, penguatan dolar AS juga diperkirakan akan menekan nilai tukar rupiah. Ibrahim memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga kisaran Rp17.100 per USD dalam waktu dekat, seiring meningkatnya kebutuhan impor energi dan arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
“Ketika harga minyak naik dan dolar menguat, kebutuhan devisa untuk impor energi juga meningkat. Ini yang memberi tekanan tambahan pada rupiah,” tutur dia.