sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Laba Emiten Tumbuh 16,25 Persen di Tengah Koreksi IHSG

Market news editor Desi Angriani
18/10/2026 17:35 WIB
Pertumbuhan laba tersebut terjadi di seluruh perusahaan tercatat secara agregat.
Laba Emiten Tumbuh 16,25 Persen di Tengah Koreksi IHSG (Foto: iNews Media Group)
Laba Emiten Tumbuh 16,25 Persen di Tengah Koreksi IHSG (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat laba bersih emiten tumbuh 16,25 persen pada semester I-2026 di tengah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pertumbuhan laba tersebut terjadi di seluruh perusahaan tercatat secara agregat. Sementara itu, laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 meningkat 18,49 persen. 

Sebanyak 74 persen perusahaan tercatat juga membukukan laba, dengan sektor energi mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 78,28 persen.

Direktur BEI Iding Pardi menilai, koreksi IHSG tidak selalu mencerminkan penurunan kinerja operasional perusahaan secara langsung.

"Di tengah koreksi IHSG yang terjadi pada pekan lalu, perkembangan ini menunjukkan bahwa koreksi harga saham dan kinerja fundamental perusahaan perlu dipahami sebagai dua aspek yang berbeda," ujar Iding kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).

Adapun dinamika pasar modal Indonesia menjadi perhatian investor setelah MSCI pada 15 Oktober 2026 membuka konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Namun, konsultasi ini belum menghasilkan keputusan final.

Di tengah perkembangan tersebut, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) terus menjalankan reformasi pasar modal untuk memperkuat transparansi, kualitas data, dan integritas perdagangan.

Sejumlah langkah yang dilakukan mencakup publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen, pengayaan informasi kepemilikan saham, serta penyempurnaan metodologi High Shareholding Concentration (HSC) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

BEI juga memperkuat likuiditas pasar melalui peningkatan batas minimum saham beredar di publik (free float) menjadi 15 persen secara bertahap. Berdasarkan data per 30 September 2026, rata-rata free float perusahaan tercatat mencapai 22,99 persen, dengan 560 dari 918 emiten telah memenuhi ketentuan tersebut.

Iding menambahkan, peningkatan transparansi dan kualitas data merupakan bagian dari upaya memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.

“Kami terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kualitas data, dan memastikan akses informasi yang lebih baik bagi investor. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menindaklanjuti perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia,” tuturnya.

Dari sisi makroekonomi, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Inflasi September tercatat 3,28 persen, sedangkan cadangan devisa pada akhir September mencapai USD146,3 miliar.

BEI juga menyoroti ukuran pasar saham Indonesia yang mencapai USD497,96 miliar, lebih besar dibandingkan Nigeria sebesar USD106,27 miliar dan Argentina sebesar USD72,94 miliar yang saat ini berstatus Standalone Market.

Meski fundamental emiten dan sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan pertumbuhan, investor tetap perlu mencermati prospek bisnis, valuasi, serta risiko masing-masing saham. Kinerja laba yang positif tidak serta-merta menjamin harga saham akan meningkat, terutama ketika pasar menghadapi ketidakpastian global dan perubahan sentimen investor.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement