Deretan merek bisnis baru yang menyasar segmen pasar berbasis komunitas tersebut diharapkan dapat memperkuat portofolio Perseroan, yang selama ini telah identik dengan merek dagang Ayam Goreng Nelongso dan Geprek Kak Rose.
Dengan performa bisnis yang demikian ekspansif tersebut, sempat beredar kabar di kalangan pelaku pasar perusahaan jumbo di industri makanan-minuman global, Nestle, juga tertarik untuk masuk dalam struktur kepemilikan saham BAIK.
Kabar tersebut diyakini bukan sekadar isu tak berdasar, melainkan skenario yang sangat mungkin terjadi, mengingat posisi Nestle secara global saat ini juga dikenal sedang agresif melakukan aksi akuisisi demi memperkuat portofolio produk makanan beku (frozen food), produk siap saji (ready-to-eat), serta memperluas penetrasi jaringan distribusi di pasar berkembang seperti Indonesia.
"Jadi terlepas dari benar-tidaknya isu (ketertarikan Nestle) tersebut, namun ketika kita bicara peluang, maka (ketertarikan) itu sangat beralasan, karena kalau kita lihat bisnisnya (BAIK), memang sangat potensial, dengan kini telah menguasai operasional sedikitnya 90 hingga lebih dari 120 outlet ritel di bawah bendera 12 hingga 15 brand utama," ujar Sugeng.
Kuat dan luasnya jaringan bisnis tersebut, Sugeng menjelaskan, tidak hanya akan mencakup legacy brand, namun juga semakin mempertegas positiong Perseroan di ceruk industri F&B dalam negeri, terutama di segmen pengelolaan resto dan logistik pangan.