Ditambah lagi, dengan volume pelayanan menembus dua juta pelanggan per bulan, serta jaringan kuat yang membawahi lebih dari 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mitra binaan, tentu hal ini bakal menjadi sebuah ekosistem mandiri yang dapat bergerak dari hulu, tengah, hingga hilir secara efisien.
Efisiensi itu sendiri, Sugeng menjelaskan, bisa dibangun melalui digitalisasi sistem pemesanan nasional yang mampu memangkas biaya operasional logistik hingga double-digit.
"Hadirnya pabrik sterilisasi berteknologi tinggi (high-tech food sterilization) milik BAIK, justru menjadi katalis utama yang membuat para investor, bahkan sampai raksasa global sekelas Nestlé, juga bakal melirik emiten ini," ujar Sugeng.
Karena dengan hadirnya teknologi tersebut, masa kedaluwarsa (shelf life) produk pangan olahan Perseroan jadi mampu bertahan lebih lama, dari 12 hingga 18 bulan, dengan standar internasional (HACCP, ISO 22000, dan Halal) tanpa mengubah kualitas rasa.
Hal ini lah yang menurut Sugeng, semakin membuat BAIK jadi siap bersaing dan mempercepat penetrasi ekspor langsung ke negara-negara potensial, seperti Malaysia, Singapura, Timur Tengah, hingga kawasan ASEAN lainnya.
"Integrasi antara lini produksi modern siap ekspor milik BAIK dan jaringan distribusi global Nestlé bisa dimaknai sebagai kombinasi strategis yang dapat melipatgandakan nilai kapitalisasi pasar perseroan," ujar Sugeng.
(taufan sukma)