IDXChannel - Langkah ekspansif yang ditunjukkan oleh PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) diyakini tengah membuat saham emiten pengelola resto dan logistik pangan tersebut jadi bidikan kalangan investor.
Terbaru, aksi ekspansi yang telah dikonfirmasi pihak manajemen adalah terkait rencana pembangunan pabrik pengawetan dan sterilisasi makanan berteknologi tinggi senilai ratusan miIiar rupiah di Malang, Jawa Timur.
Langkah hilirisasi supply chain di industri hotel, restoran dan cafe/catering (HORECA) sengaja disiapkan untuk dapat mendongkrak kapasitas produksi hingga tiga kali lipat, sekaligus membuka peluang penetrasi ekspor senilai Rp500 miliar dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
"(Saham jadi bidikan investor) Ini satu hal yang wajar, terutama (isu ini) mencuat saat Perseroan secara agresif menggenjot bisnisnya dengan menambah pabrik di Malang, yang proyeksinya bisa mendongkrak kapasitas produksi hingga tiga kali lipat," ujar Pengamat Pasar Modal, Sugeng Prayitno, dalam keterangan resminya, Minggu (28/6/2026).
Terlebih, menurut Sugeng, sebelum informasi tentang rencana penambahan pabrik tersebut, BAIK diketahui juga telah mengembangkan cakupan bisnisnya menambah serangkaian merek food & beverage (F&B) di bawah naungannya, seperti Warung Taburai yang bekerja sama dengan standup comedian sekaligus podcaster nasional, Praz Teguh, Lamak Rasa bersama Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, serta Dadar Beredar yang dirintis oleh mendiang standup comedian Babe Cabita.
Deretan merek bisnis baru yang menyasar segmen pasar berbasis komunitas tersebut diharapkan dapat memperkuat portofolio Perseroan, yang selama ini telah identik dengan merek dagang Ayam Goreng Nelongso dan Geprek Kak Rose.
Dengan performa bisnis yang demikian ekspansif tersebut, sempat beredar kabar di kalangan pelaku pasar perusahaan jumbo di industri makanan-minuman global, Nestle, juga tertarik untuk masuk dalam struktur kepemilikan saham BAIK.
Kabar tersebut diyakini bukan sekadar isu tak berdasar, melainkan skenario yang sangat mungkin terjadi, mengingat posisi Nestle secara global saat ini juga dikenal sedang agresif melakukan aksi akuisisi demi memperkuat portofolio produk makanan beku (frozen food), produk siap saji (ready-to-eat), serta memperluas penetrasi jaringan distribusi di pasar berkembang seperti Indonesia.
"Jadi terlepas dari benar-tidaknya isu (ketertarikan Nestle) tersebut, namun ketika kita bicara peluang, maka (ketertarikan) itu sangat beralasan, karena kalau kita lihat bisnisnya (BAIK), memang sangat potensial, dengan kini telah menguasai operasional sedikitnya 90 hingga lebih dari 120 outlet ritel di bawah bendera 12 hingga 15 brand utama," ujar Sugeng.
Kuat dan luasnya jaringan bisnis tersebut, Sugeng menjelaskan, tidak hanya akan mencakup legacy brand, namun juga semakin mempertegas positiong Perseroan di ceruk industri F&B dalam negeri, terutama di segmen pengelolaan resto dan logistik pangan.
Ditambah lagi, dengan volume pelayanan menembus dua juta pelanggan per bulan, serta jaringan kuat yang membawahi lebih dari 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mitra binaan, tentu hal ini bakal menjadi sebuah ekosistem mandiri yang dapat bergerak dari hulu, tengah, hingga hilir secara efisien.
Efisiensi itu sendiri, Sugeng menjelaskan, bisa dibangun melalui digitalisasi sistem pemesanan nasional yang mampu memangkas biaya operasional logistik hingga double-digit.
"Hadirnya pabrik sterilisasi berteknologi tinggi (high-tech food sterilization) milik BAIK, justru menjadi katalis utama yang membuat para investor, bahkan sampai raksasa global sekelas Nestlé, juga bakal melirik emiten ini," ujar Sugeng.
Karena dengan hadirnya teknologi tersebut, masa kedaluwarsa (shelf life) produk pangan olahan Perseroan jadi mampu bertahan lebih lama, dari 12 hingga 18 bulan, dengan standar internasional (HACCP, ISO 22000, dan Halal) tanpa mengubah kualitas rasa.
Hal ini lah yang menurut Sugeng, semakin membuat BAIK jadi siap bersaing dan mempercepat penetrasi ekspor langsung ke negara-negara potensial, seperti Malaysia, Singapura, Timur Tengah, hingga kawasan ASEAN lainnya.
"Integrasi antara lini produksi modern siap ekspor milik BAIK dan jaringan distribusi global Nestlé bisa dimaknai sebagai kombinasi strategis yang dapat melipatgandakan nilai kapitalisasi pasar perseroan," ujar Sugeng.
(taufan sukma)