"Meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasokan energi, mendorong lonjakan harga minyak dunia mendekati USD100 per barel. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi inflasi global sehingga ruang The Fed menurunkan suku bunga semakin terbatas, yang turut memicu koreksi tajam bursa Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga China," katanya.
Sentimen eksternal tersebut berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Terdepresiasinya mata uang Garuda mendorong investor asing untuk menarik modalnya keluar dari pasar keuangan domestik menuju aset berrisiko lebih rendah.
"Penguatan dolar AS yang mendorong rupiah kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS meningkatkan risiko capital outflow dari negara berkembang seiring pengalihan dana ke safe haven. Tekanan ini tercermin dari net sell asing Jumat (24/7/2026) sebesar Rp1,2 triliun, dengan akumulasi sepekan mencapai Rp2,5 triliun yang menandakan investor global masih wait and see," tuturnya.
Menghadapi potensi gejolak di bursa saham domestik, para pelaku pasar diimbau untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan investasi. Sikap cermat dalam mengamati indikator makroekonomi dan pergerakan dana asing menjadi kunci penting untuk memitigasi risiko kerugian.
"Dengan kombinasi gagalnya breakout 6.377, risiko geopolitik, dolar kuat, rupiah melemah, minyak tinggi, serta derasnya net sell asing, IHSG jangka pendek akan cenderung bergerak defensif dengan volatilitas tinggi. Investor disarankan mencermati konflik Timur Tengah, arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan arus dana asing sebagai katalis utama," kata Hendra.
(Rahmat Fiansyah)