IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai kesulitan untuk memulai fase bullish sehingga masih bergerak konsolidasi di kisaran 6.000 poin. Manuver Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang sulit diprediksi menciptakan ketidakpastian global yang menghambat laju IHSG.
Trump yang kembali memulai perang dengan Iran mendongkrak harga minyak, bahkan Brent kembali menyentuh level USD100 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi mengangkat inflasi global, termasuk AS sehingga memperbesar potensi The Federal Reserve menaikkan suku bunga. Bahkan, Trump juga kembali meluncurkan kebijakan tarif yang menciptakan tensi baru dengan negara-negara lain.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana mengatakan, kondisi ketidakpastian global yang memicu inflasi dan pelemahan rupiah menjadi beban bagi IHSG. Kondisi ini memicu pasar melakukan aksi ambil untung (take profit) di tengah tingginya ketidakpastian.
"Secara teknikal, IHSG kembali tidak mampu menembus area resistance kuat di level 6.377 sehingga mengindikasikan tekanan jual masih cukup dominan dan membuka peluang aksi profit taking. Selama belum mampu ditutup secara meyakinkan di atas 6.377 dengan volume meningkat, ruang penguatan terbatas dan jika tekanan berlanjut IHSG berpotensi menguji MA20 di kisaran 6.009 hingga support 5.900," katanya, Sabtu (25/7/2026).
Hendra menilai, memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi hambatan utama bagi IHSG untuk melaju. Hal ini membuat bank sentral memiliki ruang terbatas untuk mendorong perekonomian lewat pelonggaran kebijakan moneter.