Dia mencontohkan bursa saham Korea Selatan yang valuasinya dinilai relatif murah apabila dibandingkan dengan akselerasi laba emitennya.
“Jika Anda melihat parameter lainnya di kawasan, seperti pertumbuhan laba dan valuasi, pasar yang terkait dengan AI terlihat sangat menarik karena laba perusahaan-perusahaan tersebut benar-benar melonjak,” kata Herald.
Herald menegaskan, konsensus analis di Korea Selatan pada awal tahun semula memproyeksikan pertumbuhan laba sekitar 50 persen. Namun, angka tersebut terus direvisi naik secara dramatis.
“Namun, para analis telah menaikkan proyeksi tersebut sejak awal tahun. Sekarang proyeksinya mencapai 320 persen. Itu merupakan angka pada pekan lalu, sekarang mungkin sudah menjadi 330 atau 340 persen,” ujar dia.
Sebagai pembanding, pertumbuhan laba emiten di Indonesia diproyeksikan tumbuh stabil di kisaran 10 persen, sementara India berada pada kisaran 10 hingga 12 persen.
(Dhera Arizona)