CGSI memperkirakan setiap kenaikan harga Brent sebesar 10 persen dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan fiskal Indonesia masing-masing sekitar 0,2 poin persentase.
Di sisi moneter, CGSI memperkirakan suku bunga Bank Indonesia alias BI-Rate berada di level 5,75 persen pada akhir 2026 dengan bias hawkish. Sementara itu, pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) mencapai 53 persen pada Oktober dan 77 persen pada Desember 2026.
Ruang stimulus fiskal juga dinilai terbatas. CGSI memperkirakan defisit fiskal 2026 mencapai 2,7 persen dari produk domestik bruto (PDB), mendekati batas 3 persen.
Pemerintah diperkirakan menjaga batas tersebut melalui efisiensi belanja, meski langkah ini berpotensi membawa konsekuensi terhadap pertumbuhan.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, CGSI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mencapai 5,3 persen.