Selain indikator ekonomi makro, efek lanjutan dari penyesuaian indeks FTSE Russell yang baru akan berlaku efektif pada 22 Juni 2026 dinilai masih akan meninggalkan beban tekanan jual (overhang) pada saham-saham terkait.
"Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026, dimana kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi (3,08 persen yoy), rupiah yang telah menembus Rp18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp60.8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik," tutur Hari.
Tekanan bagi pasar modal domestik pekan ini juga diperberat oleh kondisi eksternal. Bursa saham Wall Street terpukul pada akhir pekan lalu, dipimpin oleh kejatuhan indeks Nasdaq sebesar -4,18 persen ke level 25.709 akibat aksi ambil untung massal di sektor semikonduktor.
Kondisi global kian menantang setelah rilis data ketenagakerjaan AS (NFP) Mei melonjak drastis ke angka 172.000 (jauh di atas konsensus 80.000). Hal ini mengerek imbal hasil obligasi AS (yield UST 10-tahun) ke atas 4,5 persen dan memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher-for-longer).
"Sentimen semakin tertekan oleh rilis NFP Mei yang jauh melampaui ekspektasi (172.000 vs. konsensus 80.000), mendorong yield UST 10-tahun menembus 4,5 persen dan probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akhir tahun melonjak ke 72,7 persen, menjadikannya angin kepala bagi growth stocks," kata Hari.