IDXChannel – Prospek saham-saham tambang emas dan tembaga dinilai kembali menarik setelah tekanan dari kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai banyak tercermin dalam harga.
Dengan potensi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan meredanya tensi geopolitik ke depan, ruang kenaikan harga emas dinilai lebih besar dibandingkan risikonya.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset yang diterbitkan pada 21 Juli 2026 menilai harga emas mampu bertahan di kisaran USD4.000 per troy ons meski konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Di sisi lain, harga minyak Brent sempat melonjak hingga sekitar USD90 per barel.
Menurut mereka, tekanan jangka pendek terhadap harga emas memang masih dapat terjadi.