Namun, faktor-faktor negatif seperti potensi kenaikan suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil US Treasury dinilai sudah banyak diantisipasi pasar.
Sebaliknya, sejumlah katalis positif belum sepenuhnya tercermin dalam harga, mulai dari peluang The Fed menjadi lebih dovish hingga kemungkinan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah menjelang pemilu paruh waktu AS.
Dengan kondisi tersebut, Indo Premier memperkirakan harga emas berpeluang mencapai sedikitnya USD4.500 per ons pada akhir 2026, didorong oleh persoalan struktural berupa keberlanjutan fiskal AS yang masih menjadi perhatian.
Di dalam negeri, perkembangan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) juga dinilai berpotensi menjadi katalis bagi PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mulai 2027.
Freeport memperkirakan tambang Grasberg baru beroperasi pada kapasitas 60-65 persen pada semester I-2027, sebelum kembali mencapai kapasitas penuh pada semester II-2027. Artinya, peningkatan produksi sepanjang sisa 2026 diperkirakan masih terbatas.